Manajemen Pemasaran


Biaya dalam arti luas adalah penggunaan sumber-sumber ekonomi yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk objek atau tujuan tertentu.(Mardiasmo, 1994:9).

Menurut Mulyadi (2000:8) biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Dari defenisi biaya menurut Mulyadi tersebut ada 4 unsur pokok,

yaitu :

1.      Biaya merupakan sumber ekonomi

2.      Diukur dalam satuan uang

3.      Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi

4.      Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Dalam Standar Akuntansi Indonesia dinyatakan bahwa biaya adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan aktiva yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Dari semua definisi diatas dapat disimpulkan yang di maksud biaya secara umum adalah sesuatu yang dikorbankan untuk mencapai tujuan tertentu.

Informasi biaya bermanfaat bagi manajemen untuk mengukur apakah kegiatan usaha menghasilkan laba atau SITU. Informasi biaya juga dipakai oleh manajemen sebagai usaha untuk merencanakan alokasi berbagai sumber ekonomi yang di korbankan untuk menghasilkan keluaran yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada nilai masukan yang di korbankan.

Matz-Usry dalam bukunya J. Ravianto (1999: 47) menyatakan bahwa pengumpulan, penyajian, dan analisis data biaya berfungsi sebagai :

a.       Merencanakan laba melalui budget

b.      Mengendalikan biaya-biaya melalui akuntansi pertanggungjawaban

c.       Mengukur laba periodik, termasuk pembiayaan inventori

d.      Membantu menetapkan harga jual dan kebijakan harga

e.       Menyediakan data biaya relevan untuk proses analisis guna pengambilan keputusan.

2.1.1.2 Penggolongan Biaya

Biaya dapat di golongkan dengan berbagai macam cara. Penggolongan biaya menurut Mulyadi, (2000:14):

a. Obyek pengeluaran

Dalam cara penggolongan ini nama obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya.

b. Fungsi pokok dalam perusahaan

Dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok yaitu :

1.    Biaya Produksi

2.    Biaya Pemasaran

3.    Biaya Administrasi dan Umum

c. Hubungan biaya dengan sesuatu yang di biayai

Sesuatu yang di biayai dapat berupa produk atau dapat departemen dalam hubungannya dengan sesuatu yang di biayai, biaya dapat di kelompokkan menjadi dua golongan :

1.      Biaya Langsung (direct cost)

2.      Biaya tidak langsung (indirect cost)

d. Perilaku biaya dalam hubungannya dengan sesuatu yang di biayai Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat di golongkan menjadi:

1.    Biaya Variabel

2.    Biaya Semivariabel

3.    Biaya Semitetap

4.    Biaya Tetap

e. Jangka waktu manfaat

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat di golongkan menjadi:

1.         Pengeluaran modal

2.         Pengeluaran pendapatan

2.1.1.3 Biaya Usaha

Masalah biaya sangat erat hubungannya dengan konsep laporan keuangan yang meliputi neraca, perhitungan laba rugi serta laporan perubahan modal (Munawir, 2001:5). Neraca menunjukkan jumlah aktiva, hutang dan modal perusahaan pada tanggal tertentu. perhitungan laba rugi memperlihatkan hasil yang di capai serta biaya yang terjadi dan laporan perubahan modal menunjukkan sumber modal perusahaan. Perhitungan laba rugi komponen biaya dilaporkan dalam kategori yaitu biaya usaha dan biaya di luar usaha.

Biaya usaha dalam perhitungan laba rugi dilaporkan dalam dua kategori yaitu:

a. Biaya penjualan

Biaya penjualan sebenarnya berhubungan dengan fungsi untuk memperoleh pesanan dan sekaligus berhubungan pula dengan fungsi melayani pesanan (Supriyono, 1996:201), sedangkan fungsi-fungsi tersebut terdapat di dalam biaya pemasaran. Jadi biaya pemasaran adalah meliputi semua biaya dalam rangka menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pemasaran yaitu:

1. Biaya untuk memperoleh atau menimbulkan pesanan, meliputi:

a)              Biaya promosi dan advertensi, misal gaji bagian promosi dan advertensi.

b)             Biaya penjualan, misal biaya telepon penjualan

2. Biaya untuk memenuhi atau melayani pesanan :

a)      Biaya penyimpanan dan pergudangan

b)      Biaya pengepakan dan pengiriman

c)      Biaya pemberian kredit dan pengumpulan piutang

d)     Biaya administrasi

b. Biaya Administrasi dan Umum

Biaya Administrasi dan Umum adalah biaya yang terjadi dan berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum, meliputi biaya dalam rangka penentuan kebijakan, perencanaan, pengarahan dan pengawasan terhadap kegiatan perusahaan secara keseluruhan. termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk direktur dan staff (Supriyono, 1996 :250).

Mengacu dari defenisi diatas, maka biaya administrasi dan umum dapat di kelompokkan lagi dalam lima golongan :

1.      Gaji dan upah, misal insetip dan bonus

2.      Kesejahteraan karyawan, misal biaya pengobatan karyawan

3.      Biaya reparasi dan pemeliharaan, misal biaya penyusutan perawatan kantor

4.              Biaya penyusutan aktiva tetap, misal biaya penyusutan peralatan kantor

5.              Biaya administrasi umum dan lain-lain misal biaya listrik. Untuk organisasi koperasi biaya-biaya yang terjadi dirinci sebagai berikut :

1. Biaya Langsung

Biaya langsung adalah biaya yang terjadi dapat di definisikan kepada obyek atau sesuatu yang di biayai dapat berupa produk atau departemen. karena operasi khususnya KPRI mempunyai berbagai macam jenis kegiatan usaha maka biaya langsung yang terjadi juga beragam. yang termasuk biaya langsung antara lain :

a)      Biaya operasional

b)      Biaya bunga

c)      Biaya pemasaran atau penjualan

d)     Biaya bahan bakar

e)      Biaya angkut masuk

f)       Biaya promosi

g)      Biaya langsung lainnya

2. Biaya Karyawan

Biaya karyawan terdiri dari:

a)    Biaya gaji

b)   Biaya tunjangan karyawan

c)    Biaya Perjalanan dinas

d)     Biaya sewa kendaraan dinas

e)      Biaya kesejahteraan karyawan

f)       Biaya karyawan lainnya

3. Biaya kantor dan pemeliharaan

Biaya kantor dan pemeliharaan terdiri dari :

a)      Biaya administrasi kantor

b)      Biaya pemeliharaan aktiva kantor

c)      Biaya penyusutan aktiva tetap

d)     Biaya kantor dan biaya pemeliharaan lainnya

4. Biaya organisasi

Biaya organisasi terdiri dari:

a)      Honor pengurus dan pengawas

b)      Biaya audit dan pembinaan]

c)      Biaya RAT dan representatif

d)     Perjalanan dinas

(Dep. Kop. PK&M 2002:15)

Rincian biaya operasional diatas pada hakekatnya adalah sama untuk tiap-tiap koperasi, namun pada prakteknya dalam laporan hasil usaha rincian tersebut bersifat fleksibel.

Adapun karakteristik biaya dalam koperasi adalah sebagai berikut:

a. Biaya yang terjadi karena aktivitas koperasi dalam kaitannya

dengan program khusus. Biaya ini merupakan biaya usaha yang

timbul sebagai akibat wajar dari berbagai fasilitas pemerintah

kepada koperasi. oleh karena itu biaya semacam ini dapat dipandang sebagai pengorbanan ekonomis yang telah dimanfaatkan atau tidak mendatangkan manfaat ekonomis di masa yang akan datang.

b. Biaya harus disajikan secara terpisah, antara biaya usaha tersebut sedapat mungkin didasarkan atas perbandingan jumlah manfaat yang diterima. dalam hal ini cara demikian sulit dilakukan, maka alokasi dapat dilakukan secara sistematis dan rasional. metode alokasi yang di gunakan harus di ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

2.1.2 Pengendalian Biaya

2.1.2.1 Pengertian Pengendalian

Segala aktivitas kehidupan kita membutuhkan suatu pengendalian terhadap apa yang sedang dan telah kita lakukan. begitu juga organisasi harus dikendalikan jalannya. hal ini di maksudkan untuk menjamin aktivitas yang sedang dilakukan sesuai dengan apa yang telah di tetapkan organisasi.

Pengendalian merupakan proses yang digunakan oleh manajemen agar para pelaksana, kerja dengan efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan organisasi atau tujuan bagi organisasi yang telah di tentukan terlebih dahulu (Supriyono 1996:6).

Pengendalian menurut Hansen & Mowen, (2004:354) adalah melihat ke belakang, memutuskan apakah yang sebenarnya telah terjadi dan membandingkannya dengan hasil yang direncanakan sebelumnya.

Berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengendalian merupakan usaha sistematis yang dilakukan oleh suatu organisasi atau badan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan cara membandingkan prestasi kerja (hasil) dengan rencana.

2.1.2.2 Pengertian Pengendalian Biaya

Pengendalian biaya adalah produk ikutan manajemen yang efektif, karena jika manajemen suatu perusahaan diselenggarakan dengan efektif, biasanya terjadi efisiensi tinggi sebagai gej ala nyata dari pengendalian biaya Sutrisno dan Kusriyanto, (1994:2).

Tanggung jawab atas pengendalian biaya terletak pada pihak yang bertanggungjawab atas penyusunan anggaran untuk biaya yang dikendalikannya. Walaupun sebenarnya tanggung jawab penuh dari suatu organisasi terletak pada manajer. hal ini sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh Matz dkk bahwa tanggung jawab atas pengendalian biaya harus diserahkan kepada personel yang juga bertanggungjawab atas penyusunan anggaran untuk biaya yang dikendalikannya. Tanggungjawab ini hanya terbatas pada biaya yang dapat di kendalikan, dan prestasi kerja setiap personel harus diukur dengan membandingkan biaya yang sebenarnya terjadi dengan biaya yang dianggarkan.

Pengertian pengendalian biaya diatas merupakan proses pengukuran dan perbaikan terhadap penggunaan biaya dengan membandingkan antara penggunaan biaya sebenarnya dengan biaya yang dianggarkan untuk mencapai efisiensi.

Maksud dari pengertian pengendalian biaya tentunya tidak melenceng jauh dari prinsip pengendalian biaya, sedangkan prinsip dari pengendalian biaya antara lain:

a.       Berusaha agar biaya sesuai dengan standar

b.      Standar merupakan target

c.       Tekanan masa lampau dan kini

d.      Terbatas pada item-item yang sudah memenuhi standar

e.       Dalam kondisi yang ada berusaha mewujudkan biaya yang rendah

f.       Merupakan sikap nyata

g.      Tidak pernah selesai

Pengendalian yang baik perlu melewati proses tiga tahap:1). perencanaan, 2). pelaksanaan, 3). pengukuran. Setiap program agar efektif harus direncanakan terlebih dahulu secara seksama sebelum tindakan di mula. setelah tindakan di jalankan, kemajuan dapat di umpanbalikkan kepada rencana. dengan demikian, perencanaan di sempurnakan terus-menerus atau di sesuaikan dengan membandingkan hasil karya aktual dengan standar atau sasaran yang telah di tetapkan.

2.1.2.3 Cara Pengendalian Biaya

Untuk mencapai efisiensi dalam suatu koperasi di perlukan suatu pengendalian karena dengan pengendalian, biaya yang di keluarkan bisa di tekan seminimal mungkin. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara:

a) Pengurangan biaya

Morine, (1998:3) menyatakan bahwa di dalam bisnis apapun terdapat tiga kemungkinan cara untuk meningkatkan laba yaitu:

1.      Meningkatkan volume penjualan

2.      Meningkatkan harga penjualan

3.      Mengurangi biaya

Oleh sebab itu, salah satu cara di atas yang dapat digunakan untuk pencapaian efisiensi dengan cara mengurangi biaya, dimana tindakan tersebut merupakan bagian dari pengendalian biaya. pengurangan biaya dimaksudkan dengan mengerahkan segala usaha untuk menggunakan semuanya secara lebih efektif dan efisien agar di peroleh lebih banyak hasil dengan biaya yang sedikit.

b) Penggunaan biaya standar

Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu dibawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu. Jika biaya sesungguhnya menyimpang dari biaya standar, maka yang dianggap

benar adalah biaya standar sepanjang asumsi-asumsi yang mendasari penentuannya tidak berubah Mulyadi, (2000: 416).

Menurut Wilson dan Campbell, (1999: 225) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam pengendalian biaya dengan menggunakan standar adalah sebagai berikut:

1.         Menetapkan perbedaan antara standar dengan pelaksanaan yang sesungguhnya

2.         Menganalisis sebab-sebab terjadi perbedaan

3.         Mengambil tindakan perbaikan untuk mengendalikan biaya sesungguhnya yang tidak memuaskan, agar sesuai dengan standar yang telah di tetapkan terlebih dahulu.

Kaitannya dengan pengendalian biaya, biaya standar mempunyai manfaat sebagai berikut:

1.         Memberikan tolak ukur yang lebih baik mengenai prestasi pelaksanaan

2.         Memungkinkan dipergunakannya prinsip perkecualian (principle of exception)dengan akibat penghematan waktu.

3.         Memungkinkan laporan yang segara atas informasi pengendalian biaya

4.         Standar berlaku sebagai inisiatif bagi karyawan.

Memahami beberapa manfaat di atas dapat di ketahui penggunaan biaya standar ini penting bagi manajemen dalam

mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk mengatur dan mengendalikan kegiatan-kegiatan.

c)      Pemusatan sumber daya hasil

Oleh Drucker, (1995: 54) dinyatakan bahwa pemusatan sumber daya pada hasil adalah pengendalian biaya yang terbaik dan paling efektif. Bagaimanapun juga biaya tidak terjadi dengan sendiri. Biaya selalu di keluarkan paling tidak dengan maksud tertentu untuk mencapai suatu hasil.

Bertolak dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa segala usaha atau upaya yang dilakukan untuk suatu organisasi harus berorientasi hasil.

d)     Penggunaan anggaran

Anggaran adalah suatu rencana yang di susun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu pendek (periode) tertentu yang datang Munandar, (2000:1).

Anggaran dapat digunakan sebagai tolak ukur, sebagai pembanding untuk menilai (evaluasi) realisasi kegiatan koperasi nanti. dengan membandingkan antara apa yang tertuang di dalam anggaran dengan apa yang dicapai oleh realisasi kerja koperasi, dapatlah dinilai apakah koperasi telah sukses bekerja ataukah kurang sukses bekerja.

2.1.2.4 Tolak Ukur Efisiensi Pengendalian Biaya

Adapun tolak ukur efisiensi dari pengendalian biaya adalah dengan membandingkan total biaya usaha dengan biaya standar.

Biaya Usaha = Biaya Karyawan + Biaya Organisasi + Overhead Cost Pain Total Biaya Usaha           X

% Biaya Usaha =__________________________ 1 00 %

Pendapatan Operasional Bruto

Efisiensi pengendalian biaya usaha dapat di hitung dengan rumus :

% Efisiensi pengendalian biaya = % Total biaya usaha yang dicapai – % Biaya usaha standar

% Efisiensi biaya usaha standar normal untuk badan usaha koperasi di tetapkan sebesar 65% (Dep. Kop PK&M, 2002 : 22).

2.1.3 Modal Kerja

2.1.3.1 Pengertian Modal Kerja

Menurut Gitosudarmo (2000 :35) Modal kerja adalah kekayaan atau aktiva yang diperlukan oleh perusahan untuk menyelenggarakan kegiatan sehari-hari yang selalu berputar dalam periode tertentu. Menurut Riyanto (2001 :57) modal kerja di bagi menjadi tiga konsep :

a) Konsep Kuantitatif

Mengartikan modal kerja sebagai keseluruhan daripada aktiva lancar atau di sebut Gross working capital. Konsep ini tidak menitikberatkan pada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam hal ini KPRI di dalam membiayai

operasinya yang bersifat rutin, atau menunjukkan jumlah dana yang tersedian untuk tujuan operasi jangka pendek.

b)      Konsep Kualitatif

Modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat di gunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering di sebut modal kerja netto (net working capital) yaitu kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancar. Konsep ini menekankan pada kualitas modal kerja yang menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar daripada utang lancar, dan dikaitkan dengan besarnya jumlah hutang yang harus segera dilunasi. Juga menunjukkan margin of protection atau tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek untuk menjamin kelangsungan operasi di masa datang. serta kemampuan untuk memperoleh tambahan pinjaman jangka pendek dengan jaminan aktiva lancarnya.

c)      Konsep Fungsional

Menunjukkan besarnya kas, piutang, dan persediaan di kurangi besarnya keuntungan dan besarnya sebagian dana yang di tanamkan dalam aktiva tetap. Pada dasarnya dana yang dimiliki oleh perusahan akan di gunakan untuk menghasilkan laba sesuai usaha pokok perusahaan. Ada sebagian dana yang di gunakan dalam suatu periode akuntansi tertentu yang seluruhnya langsung menghasilkan pendapatan

bagi periode tersebut, dan ada sebagian dana yang tidak seluruhnya di gunakan untuk menghasilkan pendapatan untuk periode tersebut.

Dilihat dari teori-teori diatas dapat diambil kesimpulan secara

umum bahwa modal kerja dapat berarti :

a.       Seluruh aktiva lancar atau modal kerja kotor (Gross Working Capital)

b.      Aktiva lancar di kurangi uatang lancar

c.       Keseluruhan dana yang diperlukan untuk menghasilkan laba tahun berjalan.

2.1.3.2 Macam-macam modal kerja

Gitosudarmo (2000:33) menggolongkan macam-macam modal kerja sebagai berikut :

a. Modal kerja permanen (Permanent working capital) yaitu modal kerja yang selalu ada pada perusahaan agar dapat berfungsi dengan baik dalam satu periode akuntansi.

Modal kerja permanen terbagi menjadi dua yaitu :

1.      Modal kerja Primer (Primary working capital)

Merupakan modal kerja minimal yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelangsungan kegiatan usahanya.

2.      Modal kerja normal

Modal kerja yang digunakan untuk dapat menyelenggarakan kegiatan produksi pada kapasitas normal.

b. Modal kerja variabel (variable working capital) adalah modal kerja yang di butuhkan saat-saat tertentu dengan jumlah ynag berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan dalam datu periode.

Modal kerja variabel dapat dibedakan sebagai berikut :

1.      Modal kerja musiman siklis (seasonal working capital)

Yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan oleh perubahan musim.

2.      Modal kerja siklis (cyclical working capital)

Yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena perubahan permintaan produk.

3.      Modal kerja darurat (emergency working capital)

Yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah yang penyebabnya tidak di ketahui sebelumnya.

2.1.3.3 Komponen Modal kerja

Mengacu pada konsep kualitatif, modal kerja yaitu keseluruhan aktiva lancar, yang termasuk aktiva lancar menurut Munawir, (2001:14) :

a.       Kas

b.      Investasi jangka pendek

c.    Piutang wesel

d.   Piutang dagang

e.    Persediaan

f.       Piutang penghasilan

g.      Persekot atau biaya di bayar dimuka

2.1.3.4 Pentingnya Modal Kerja

Dalam kesehariannya suatu perusahaan membutuhkan modal kerja yang cukup untuk membiayai kegiatannya. menurut Munawir (2001:116) modal tersebut digunakan untuk :

a.       Melindungi perusahaan terhadap krisis modal karena turunnya nilai aktiva lancar

b.      Memungkinkan untuk dapat membayar kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya

c.       Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.

d.      Memungkinkan perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para pelanggannya.

e.       Memungkinkan perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para konsumennya.

f.       Memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang di butuhkan.

2.1.3.5 Sumber Modal Kerja

Menurut Munawir (2001:120) pada umumnya sumber modal kerja perusahaan dapat berasal dari :

a. Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah net income nampak dalam perhitungan laba rugi ditambah dengan depresiasi dan amortisasi,

jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan.

b.      Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek).

Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek (Marketable securities atau effek) salah satu elemen aktiva yang langsung dapat dijual dan akan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan adanya penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya perubahan unsur modal kerja dari bentuk surat berharga menjadi uang kas.

c.       Penjualan aktiva tidak lancar

Hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang, danaktiva tidak lancar dapat dijadikan sumber modal kerja yang lain.

d.      Penjualan saham atau obligasi

Perusahaan juga dapat menanbah emisi saham baru dan mengeluarkan surat obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya untuk dapat menambah modalnya. Tetapi konsekuensi dengan cara ini perusahaan harus membayar bunga tetap kepada pembeli saham ataupun obligasi, oleh karena itu jumlah modal saham dan obligasi yang akan di keluarkan harus sesuai dengan kebutuhan jumlah modal yang di perlukan.

2.1.3.6 Perputaran Modal Kerja

Modal kerja suatu perusahaan akan terus berputar selama perusahaan tersebut masih berdiri. Semakin pendek periode perputaran, berarti semakin cepat modal kerja yang berputar. Perputaran modal kerja yang rendah menunjukkan kelebihan modal kerja yang disebabkan oleh rendahnya perputaran masing-masing elemen modal kerja. Lamanya periode perputaran modal kerja yaitu saat kas diinfestasikan dalam komponen modal kerja sampai kembali lagi menjadi kas.

Untuk menilai keefisienan modal kerja dapat di gunakan rasio antara total penjualan dengan jumlah modal rata-rata tersebut (working capital turnover) Munawir, (2001:80).

Lamanya perputaran modal kerja dapat di hitung dengan membagi 360 hari dengan jumlah perputaran modal kerja dalam satu tahun. Menurut Munawir perputaran modal kerja dapat di hitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Tingkat Perputaran Modal Kerja = Penjualan
Modal Kerja Rata – rata

Modal Kerja Awal + Modal Kerja Akhir

Modal Kerja Rata-rata =

2

Modal Kerja = Total Aktiva Lancar – Total Hutang Lancar (Konsep Kualitatif)

2.1.4 Rentabilitas

2.1.4.1 Pengertian Rentabilitas

Menurut Riyanto (2001:35) yang dimaksud dengan rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Menurut Munawir (2001:33) rentabilitas adalah kemampuan perusahaan atau badan usaha dalam menggunakan dana yang dimiliki untuk memperoleh laba.

Menurut Riyanto (2001:36) yang dimaksud dengan rentabilitas ekonomi adalah perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam persentase.

Jadi rentabilitas dapat didefenisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dengan aktiva atau modal yang dipakai untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Tingkat rentabilitas mencerminkan kemampuan koperasi dalam menghasilkan keuntungan, maka dengan demikian tingkat rentabilitas yang tinggi merupakan pencerminan efisiensi yang tinggi pula. berkaitan dengan hal tersebut maka koperasi lebih diarahkan untuk mendapatkan rentabilitas maksimal daripada laba yang maksimal.

Istilah lain untuk rentabilitas yaitu Return On Invesment (ROI) yang di perhitungkan dengan earning power. Besarnya earning power maupun ROI pada koperasi dapat diketahui dengan mengalikan antara operating asset dengan profit margin

2.1.4.2 Macam-macam Rentabilitas

Menurut Riyanto, (2001:36) disebutkan bahwa rentabilitas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

a.       Rentabilitas Ekonomi

Rentabilitas ekonomi adalah perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang di pergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam prosentase. Oleh karena itu pengertian rentabilitas sering dipergunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal didalam suatu perusahaan.

Laba Usaha / SHUX

Rentabilitas Ekonomi =________________ 1 00%

Modal Usaha

Modal yang di perhitungkan untuk menghitung rentabilitas

ekonomi hanyalah modal yang bekerja didalam perusahaan

b.      Rentabilitas Modal Sendiri

Rentabilitas modal sendiri adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal disatu pihak dengan modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak Riyanto, (2001: 44). Atau dengan kata lain bahwa rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamya untuk menghasilkan keuntungan. Laba yang yang di perhitungkan untuk menghitung rentabilitas modal sendiri adalah laba usaha setelah di kurangi dengan bunga modal asing dan pajak perseroan atau income tax. Sedang modal yang di

perhitungkan hanyalah modal sendiri yang bekerja di dalam perusahaan.

2.2 Kerangka Pemikiran

Suatu perusahaan dalam hal ini koperasi dalam menjalankan usahanya bergantung pada aspek modal, kualitas aktiva yang dimiliki, net income dari kegiatan operasinya, laba yang diperoleh dan lain-lain. Aspek­aspek tersebut sangat mempengaruhi perubahan laba koperasi. Koperasi dapat dinilai mengalami peningkatan atau penurunan yaitu dengan melihat perubahan laba yang dialami dari tahun ke tahun, tetapi keberadaan laba yang tinggi dalam koperasi belum bisa mencerminkan tingkat keberhasilan koperasi tersebut tanpa disertai efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaanya.

Rentabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan /organisasi untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto 2001:36). Rentabilitas merupakan salah satu alat untuk menilai keberhasilan suatu perusahaan atau koperasi dalam memperoleh laba. Adanya rentabilitas yang tinggi sangat penting bagi koperasi, dengan adanya hal tersebut koperasi mampu memenuhi kewajiban dengan tepat waktu dan mampu membiayai kegiatan operasionalnya setiap hari serta dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Menurut Bambang Riyanto (2001:36) ada dua faktor utama yang mempengaruhi rentabilitas, yaitu :

a) Profit Margin

Yaitu perbandingan antara net operating income (laba usaha) dengan net sales (penjualan bersih), perbandingannya dinyatakan dalam prosentase.

Net Operating IncomeX Profit Margin =     1 00%

Net Sales

b) Turnover of Operating Assets

Disebut juga tingkat perputaran aktiva usaha atau kecepatan berputarnya operating asseta dalam suatu periode tertentu. Perputaran tersebut dapat ditentukan dengan membagi net sales (penjualan) dengan operating assets (aktiva usaha)

Net Sales

Turnover Of Operating Assets = _______________

Operating Assets

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profit margin dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat pada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan sales, sedangkan turnover of operating assets dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat kepada kecepatan perputaran aktiva usaha dalam periode tertentu. Percampuran kedua hal tersebut sangat mempengaruhi earning power (rentabilitas).

Untuk kelancaran usahanya suatu koperasi juga membutuhkan biaya, tanpa biaya tersebut koperasi tidak dapat melaksanakan kegiatan operasionalnya setiap hari. Menurut Mulyadi (2000:11) menyatakan bahwa dalam usaha bermotif laba maupun tidak bermotif laba, manajemen selalu

berusaha agar nilai keluaran lebih tinggi dari masukan yang dikorbankan untuk menghasilkan laba / SHU. Dengan kata lain biaya yang telah dikeluarkan harus mampu menghasilkan keluaran laba yang lebih tinggi sehingga diperlukan pengendalian terhadap biaya-biaya tersebut. Dengan adanya pengendalian biaya diharapkan tidak hanya sekedar menaikkan laba tetapi juga dapat meningkatkan rentabilitas, karena jika biaya tidak di kendalikan akan mengurangi pendapatan sehingga SHU yang di peroleh akan turun.

Pengendalian merupakan proses yang dilakukan manajemen agar para pelaksana bekerja dengan efektif dan efisien Supriyono, (1999:6). Sedangkan menurut Kusriyanto merupakan produk ikutan manajemen yang efektif, karena jika manajemen di selenggarakan dengan efektif, biasanya terjadi efisiensi yang tinggi sebagai gej ala nyata dari pengendalian. Dengan adanya pengendalian, biaya yang dikeluarkan bisa ditekan seminimal mungkin dan dengan tingkat penjualan yang tinggi pendapatan yang akan di peroleh juga tinggi dan akan mengarah ke laba yang tinggi pula. Dengan adanya pengendalian biaya akan mendapatkan tingkat rentabilitas yang juga tinggi.

Selain biaya untuk memperlancar kegiatan usahanya, koperasi juga membutuhkan modal. Modal ini sangat penting dalam mengoptimalkan pendapatan dan menjaga kelangsungan hidup suatu koperasi. Menurut Gitosudarmo, (2000:34) modal kerja adalah kekayaan atau aktiva yang di oleh perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan sehari-hari yang selalu

berputar dalam periode tertentu. Semakin tinggi perputaran modal kerja semakin cepat modal kerja kembali berarti laba yang di peroleh semakin besar dan semakin efektif. Laba yang tinggi juga mempengaruhi tingkat rentabilitas koperasi. Dengan modal yang cukup serta dapat menjalankan usahanya seoptimal mungkin maka akan memberikan keuntungan bagi koperasi tersebut dan akan meningkatkan rentabilitasnya.

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa rentabilitas dapat meningkat jika biaya dapat dikendalikan secara efektif dan efisien dan didukung dengan tingkat perputaran modal kerja yang tinggi.

Secara garis besar kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut :

Efisiensi 

Pengendalian Biaya (X1)

Rentabilitas
Ekonomi(Y)

Perputaran modal kerja (X2)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: