Agus Budiono – Buah dari Kejujuran dan Rendah Hati


Terkadang, hobi menjadi hal yang dikesampingkan. Bahkan tidak penting. Tapi hobi bisa jadi menjadi modal awal meraih kesuksesan. Banyak kisah tentang keberhasilan yang berangkat dari hobi dan iseng.

Berawal dari hobi, Sartono Ibrahim dan Gito Nugroho mendirikan Stasiun Radio Maestro. Awalnya, kakak dan saudara sepupu dari Direktur Radio Maestro, Agus Budiono ini punya hobi mengutak-atik alat elektronik.

Kebetulan saat itu sedang menjamur tren pemancar. Sartono dan Gito pun mencoba membuat pemancar.

Tak disangka, keisengan mereka membuahkan hasil. Pada 1968 mereka mendirikan Stasiun Radio Maestro. “Pelan-pelan mereka mulai menambah alat supaya bisa lebih canggih,” lanjut Budiono.

Suatu saat, ada peraturan pemerintah yang menetapkan bahwa stasiun radio harus berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT). Mendengar hal itu, mereka sempat berpikir untuk membubarkannya. “Kami harus berurusan dengan pajak dan pegawai. Tapi karena dorongan Ayah, akhirnya kami coba meneruskan,” ujar pria yang bergabung di Stasiun Radio Maestro sejak 1974 ini.

Lalu perubahan datang lagi pada 1991. Nama PT Maestro dirubah menjadi PT Madah Ekaristi Swaratronika. Penggantian nama tersebut dikarenakan Maestro merupakan kata asing lantaran belum terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kemudian pada 1997, frekuensinya beralih ke FM. Tetapi sayangnya, jangkauan FM tidak bisa sampai ke pelosok desa. Alhasil masyarakat desa tidak lagi bisa menerima siarannya

Pengaruh positif

Mereka mengembangkan terus radio itu. Sesuai dengan visi dan misinya, mereka ingin memberi pengaruh positif kepada para pendengarnya. Yaitu menyampaikan kasih kebenaran dan memberikan edukasi hiburan, selain menjadi mediator fasilitator, pusat informasi, dan profesionalisme.

Pada 1971, mereka mulai membuat program acara rohani. “Itu dalam bentuk renungan dan khotbah,” ujar pria kelahiran Bandung, 22 Juni 1952. Bahkan mereka juga memasukkan unsur pendidikan sekitar 80 persen. Semisal, drama berdurasi empat menit yang mengangkat tema seputar etika. Guna mewujudkan unsur pendidikan, mereka juga secara ketat menyeleksi lagu-lagu yang akan disiarkan. Mereka hanya memilih lagu-lagu yang berlirik positif.

Sebuah Rahasia

Budi bersyukur radio yang kini dipimpinnya berdiri tegak hingga sekarang. “Ini bukan karena manusia tapi karena Tuhan.”

Dalam mengelola, Budi memiliki resep, yakni taat pada Tuhan dan selalu rendah hati. Budi berusaha selalu menerapkan kejujuran dalam setiap hal. Seperti ketika menghadapi gangguan teknis yang mengakibatkan iklan gagal siar. “Yang pasti kami harus jujur, tidak disiarkan sebabnya apa,” imbuh jemaat GKI Jalan Kebonjati, Bandung.

Budi berharap radio yang awal berdirinya hanya dari hobi, bisa dapat terus memberikan yang terbaik untuk Tuhan dan para pendengarnya.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: